Tuesday, July 14, 2020

Bikin Donat Pake Blender Satu Jam Bisa Bikin 200 pcs, Mau ?

Bangun tidur Anakku bilang,
“ Bu, semalam aku bikin donat, pake blender. Sekarang udah jadi.”

Haaah ... ! Apa aku ga salah dengar ya. Perasaan Ini bocah paling males masuk ke dapur. Alhamdulillah kalau sudah insyaf, wkkk. berarti Kami bisa sarapan donat pagi ini. Asiiik ... !!!


Sebagai Ibu aku acungkan jempol, untuk memberikan apresiasi padanya.

“ Wah hebat ! tapi koq pake blender toh Nak, bukan pake mixer ?” kataku sambil membayangkan ribetnya bikin adonan donat pakai blender.

“ Emh ... Maksud aku, BLENDER itu nama software untuk bikin Animasi 3 Dimensi bu.” Jawab si anak DKV ini.


“ Owalaaah ... wkkk. Logika emak-emak langsung ke urusan dapur aja nih. Abisnya sih yang dibikin donat. Coba tadi bilangnya bikin film animasi, mungkin kepikir Blender itu software, hehehe. ” Aku nyengir sambil tepok jidat.


“ Iya Bu. Aku juga lagi nyoba, adaptasikan cerita anak yang sederhana jadi animasi. Tokohnya Cuma empat. Udah aku bikin semua. Ibu mau lihat juga ?” Si anak pendiam tumben nih mau cerita-cerita.


“ Mauuu … !!!” Jawabku penuh semangat.


Dia nyalakan laptopnya dan menunjukan file donat yang dibuatnya dengan software blender.



" Wooow,  tekstur donat dan topingnya persis kaya donat beneran. Berapa lama bikin satu donat ini ?" Tanyaku penasaran.

" Untuk bikin yang pertama agak lama. Sekitar enam jam. Tapi kalau sudah jadi satu, aku bisa copas sampai 200 pcs per satu jam. Hehehe. kalau mau toping yang lain bisa aku edit." Senyumnya tipis.


" Ngga usah ... makasih, hahaha. Ibu pesan by gofood aja deh. Satu donat aja bisa bikin kenyang. daripada 200 pcs gambar semua" Tawa kami berderai.


" Ibu, jadi mau lihat design karakter tiga dimensi yang aku buat ?" Dia mengingatkanku pada karyanya yang lain.


" Iya dong. Mana, ibu mau lihat." Aku serius memperhatikan layar monitor.


" Ibu baca dulu deh ceritanya. Barusan udah aku kirim by email." Ini anak selalu punya cara untuk menghemat bicaranya. 


" Ahaha ... padahal mah pinginnya sih diceritain aja, sama designernya, Hehehe." Tak urung kubuka email lewat HP.


Ternyata ceritanya seperti ini :



Rubah dan Kucing
       Pagi itu udara begitu segar. Matahari menghangatkan seluruh penjuru hutan dengan sinarnya yang kuning keemasan. Saat yang tepat untuk semua binatang keluar dari rumah mereka untuk berjemur. 
       Demikian juga dengan rubah dan kucing hutan. Mereka bertemu di bawah pohon beringin di tepi hutan. Padang rumput membentang luas di hadapan mereka. Rubah berbaring terlentang meregangkan kaki-kakinya di atas sebuah batu. Kucing asyik menjilati bulu-bulunya, duduk tenang di sampingnya. Mereka bercakap-cakap dengan akrab. Rubah itu sedang menceritakan kelihaiannya untuk menghindari musuh. 
       "Dengan kecerdikanku, aku punya seratus macam cara untuk melarikan diri dari musuh," kata rubah dengan bangga.
       "Aku cuma punya satu," jawab kucing. "Tapi cara itu selalu bisa aku andalkan." 
       Ketika kucing itu sedang mendengarkan berbagai macam kisah kecerdikan rubah, telinga mereka yang tajam mendengar puluhan kaki berderap mendekat. Mereka segera bangkit, berdiri tegak mengamati cakrawala.Ternyata di kejauhan tampak banyak sekali anjing pemburu berlari mengiringi pemburu-pemburu yang mengendarai kuda.
       Kucing dengan sigap melompat ke atas pohon beringin. Ia melakukan satu satunya cara yang ia ketahui, naik pohon dan bersembunyi. Dari dalam lubang di atas pohon, di balik daun daun, ia berbaring mengintip.
       "Ini caraku," bisik si kucing pada rubah di bawah pohon. "Apa caramu?"        
       Rubah itu berpikir keras, ia berpikir satu cara, lalu cara lainnya, dan begitu seterusnya. Para pemburu itu sudah semakin dekat, dan anjing-anjingnya berlari mendahului. 
       Ketika ia sudah memutuskan satu cara, semuanya sudah terlambat. Anjing-anjing lebih dulu menangkapnya ketika ia sedang berlari berputar-putar kebingungan. Dengan mudah sang pemburu menjeratnya dan memasukkannya dalam karung.
       Kucing melihat semuanya di atas pohon, lalu ia berkata pada dirinya sendiri, "Lebih baik melakukan sesuatu yang sederhana daripada hanya memikirkan banyak cara tapi tidak dilakukan."

Selesai membaca aku bertepuk tangan.
" Yeeeaaay ceritanya bagus. Sedehana tapi ada hikmah yang bisa dipetik. Nah Ayo ceritakan bagaimana langkah-langkah kisah tersebut dijadikan animasi."
Dia melirik kearahku sambil tersenyum lalu mengajakku melihat layar monitornya.
"  Pertama sih aku corat-coret tokoh-tokoh dalam cerita tersebut mengunakan Photoshop. Terus setiap tokoh itu aku bikin dari empat sudut pandang. Yaitu dari depan, belakang, kiri dan kanan. seperti ini kira-kira." Katanya sambil klak-klik berpindah dari satu file ke file lain.

" Hmmm ... rasanya tokoh kucing mengingatkan ibu pada bentuk dasar geometris kotak dan serigala ini mengingatkan pada bentuk segitiga terbalik."

" Hehe Iya bu, aku itu kalau bikin tokoh Baik, biasanya mengambil bentuk dasar kotak dan lingkaran dalam design karakternya. sedangkan untuk tokoh jahat aku sering mengambil bentuk segitiga terbalik. seperti ini jadinya." Dia menunjukkan empat tokoh yang dibuatnya masih dalam dua dimensi.

" Owh gitu yaaa ... " kataku menganguk angguk senang karena dia jadi bicara agak banyak.

" Nah terus gambar ini di taro di software blender. Bentuk awalnya cuma kaya kubus, tanpa sisi atas dan bawah. Sesudah itu sih tinggal dibentuk sesuai harapan kita dengan menarik bagian-bagiannya. istilah ibu dalam bahasa sunda mungkin di-benyeng-benyeng."

Aku menikmati semua yang dipamerkannya padaku. Aku bersyukur setidaknya Liburan semesternya di masa New Normal pandemi covid-19 ini, dia punya kesibukan untuk menuntaskan rencananya ini.

#designcharacter
#animasi3DdenganBlender

Friday, July 3, 2020

ITB Dalam Bentang Sejarah Indonesia



Dari TECHNISCHE HOOGESCHOOL TE BANDUNG hingga INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG ( 3 Juli 1920 – 3 juli 2020 )

3 Juli 1920, tepat seratus tahun yang lalu, pemerintah kolonial Belanda membuat sekolah tinggi pertama di Hindia Belanda yang bernama Technische Hoogeschool te Bandoeng (disingkat THS) berkedudukan di kota Bandung, tepatnya di  jalan Ganesha nomer 10 dan 12 ini.

Apakah penjajah ini berbaik hati ? Hehe, ngga lah, tujuannya pasti untuk keuntungan mereka sendiri. Sebagaimana kita tahu perang dunia ke-1 (1914-1918 M) melanda sebagian besar Eropa. Mereka sedang mengalami kesulitan mendatangkan tenaga kerja dari Eropa. Alasan lain adalah, tenaga kerja dari dalam negri tentu bisa digaji lebih murah, untuk pekerjaan yang sama.




Pada 3 Juli 1926, presiden RI pertama Bapak Soekarno menjadi satu dari empat lulusan pertama dari kalangan pribumi dan berhak menyandang gelar Insinyur. Tentu saja dari jurusan teknik sipil, sebab memang jurusan yang ada baru itu saja. 

Di masa pendudukan Jepang, kampus ini sempat ditutup sejak 8 Maret 1942. Tapi kegiatan penelitian di laboratorium diizinkan. Komunitas laboratorium tersebut dinamakan Institute of Tropical Scientific Research (Lembaga Penelitian Ilmiah Tropis) yang diawaki oleh banyak staf akademik THS Bandung.

Kemudian pada 1 April 1944 dibuka kembali, dengan nama Bandung Kogyo Daikagu, kurikulumnya menyesuaikan pada Kogyo Daikagu di Tokyo.

Begitu Indonesia merdeka, Agustus 1945 namanya diubah menjadi Sekolah Tinggi Teknik Bandung (STT Bandung).

Namun berdasar situasi politik tahun 1946, STT bandung harus boyong ke Yogyakarta.
Ternyata Yogyakarta juga diserbu oleh tantara Belanda, hingga sekolah tinggi ini sempat tutup lagi.

Ketika kemudian pada tahun 1949 dibuka lagi dengan hanya membuka satu jurusan maka itulah kemudian yang menjadi cikal bakal berdirinya fakultas teknik Universitas Gajah Mada.




Akhirnya pada tanggal 2 Maret 1959 Pemerintah Republik Indonesia meresmikan berdirinya Institut Teknologi Bandung disingkat ITB. Peresmian oleh Bapak Presiden RI pertama Ir. Soekarno.

#seratustahunitb
#seabaditb


Monday, June 29, 2020

Kegigihan Ibumu Berbuah Sayang Kami Padamu

Di meja ini, Si Mba pernah menghadap padaku, berdiri tertunduk.
“ Bu saya mohon izin mengganggu waktu ibu. Tapi, sebelumnya saya mohon maaf ya bu. selama ini saya sebenarnya merahasiakan sesuatu.” Si Mba yang baru empat bulan kerja dirumahku membuka pembicaraan.

Aku tersenyum memperhatikan wajahnya yang resah. Kutarik kursi supaya dia duduk di dekatku.
“ Ada masalah apa toh mba, coba dibicarakan. Barangkali saya bisa bantu.“ Kataku seramah mungkin untuk menenangkannya.

“ Emmh … Jadi gini bu, sebenarnya saya ini sedang hamil empat bulan. Saya ngga berani bilang terus terang sama ibu, karena takut ngga diperbolehkan kerja lagi di rumah ini.”

“ Ya ampun, padahal lebih baik terus terang. Biar saya bisa bantu jaga kehamilannya.  Apalagi masih hamil muda, kan riskan. Ngga apa-apa koq kalau mau tetap kerja dalam keadaan hamil. Asal Mbanya kuat aja. Jadi kalau terasa cape jangan sungkan istirahat. Kalau sakit ngga apa-apa bolos asal ngasih kabarnya agak pagi.”

“ Iya bu, Makasih. Emmh … tapi ada yang selalu jadi pikiran saya bu. Lima bulan lagi saya melahirkan. Apakah sesudah punya bayi saya masih boleh kerja disini.” Dia menunduk lebih dalam, intonasi bicaranya menunjukkan dia sangat khawatir.

“ Pada dasarnya boleh mba. Mba boleh kerja bawa bayi. Semua berpulang pada kesanggupan mba sendiri nantinya.”

Sejak itu aku bertambah sayang pada perempuan ini. Dalam posisinya sebagai ibu dari tiga anak, dia ingin tetap bekerja meski dalam keadaan hamil anak ke empat.

Aku memahami perjuangannya menambah penghasilan keluarga. Setiap hari suaminya
Keliling dari kampung ke kampung berjualan suatu produk kuliner buatannya sendiri. Biasanya berangkat dari rumah jam 6 pagi, habis ngga habis dagangannya dia harus ada dirumah paling lambat jam 11 siang. Sebab istrinya harus pergi bekerja di rumahku, tanpa membawa anak bungsu mereka yang masih berumur dua setengah tahun.

Aku memang memintanya untuk tidak membawa anak bungsunya ketika kerja dirumahku, sebab rumah kami tiga lantai, banyak tangga. Aku khawatir anaknya jatuh di tangga, saat si Mba lengah.

Mungkin belajar dari kinerja ayah dan ibunya, putri sulung Si Mbak juga bekerja di siang hari sambil sekolah kejar paket C di malam hari. Hal-hal seperti ini yang membuat aku semakin salut pada keluarga ini.


Di meja ini lagi, Si Mba pernah menghampiri aku lagi. Meski tak menunduk, kekhawatiran masih membayang di wajahnya.

“ Bu, mungkin dua minggu lagi saya akan melahirkan. Saya izin cuti 40 hari saja bu. Setelah itu saya berjanji bekerja lagi disini
“ Oh yaa…, boleh mba, boleh. Gimana sanggupnya Mba saja.” Jawabku seramah mungkin, agar dia tenang.
“ Emh ini buuu…, kalau boleh saya usul bu. Selama saya cuti, bolehkah saya saja yang mencarikan orang untuk menggantikan kerjaan saya di rumah ibu. “
“ Siapa kira-kira orangnya?” Kupandangi wajahnya yang menunduk.
“ Saya akan pilih dari saudara-saudara saya sendiri di kampung, Bu. Nanti sebelum saya cuti, akan saya ajak ke rumah ibu untuk saya latih. Begitu, kalau ibu mengizinkan.”
 “ Boleh mba, silahkan diatur saja.” Jawabku

Kemudian mendekati waktu bersalin, dia benar benar melakukan langkah-langkah sesuai yang diusulkan padaku. Akhirnya dia cuti H-2 dari prediksi tanggal lahir.

12 Maret 2020 adalah tanggal kelahiran sang jabang bayi menurut prediksi dokter. Namun sudah lewat belasan hari belum ada tanda-tanda persalinan. Sampai harus dua kali USG.

Di malam Nisyfu Sya’ban, pukul 03.00 pagi, akhirnya aku mendapat kabar bahwa Si Mba sudah melahirkan di rumah bidan. Ajib, Allah swt takdirkan saat kelahirannya pada jam yang kucintai pada malam yang bagiku sangat istimewa.

Bayi itu dinamai Hanin. Selama Mba cuti foto-foto bayinya sering dikirimkan ke HP-ku. Ketika suatu siang, Mba memasuki halaman rumahku dengan payung terkembang demi melindungi bayinya. Trenyuh aku memandangnya lewat jendela. Aku bertekad untuk menyayangi keduanya sebagai keluargaku sendiri.

Kepada anak-anakku, aku sering menjadikan keluarga Mba, sebagai contoh teladan tentang kerja keras dan keuletan dalam menjawab kesulitan hidup. Aku juga meminta seluruh keluargaku menyayangi Mba dan Hanin seperti keluarga sendiri.

Putriku rela kamarnya dipakai untuk Hanin tidur siang. Dalam masa pandemi covid kami sekeluarga belajar dan bekerja dalam satu ruang kerja. Maka di ruang itu juga, aku meletakan Kasur kecil untuk Hanin bermain, tepat ditengah-tengah ruangan. Sehingga kalau dia menangis kami bergantian mengajak dia bermain dan bicara. Hanya kalau lapar Ibunya membawa dia ke kamar untuk disusui. Setiap pukul 5 sore Hanin dan ibunya pulang diantar dengan sepeda motor oleh seorang putraku.

Aku bersyukur berkat Hanin, ada jam rutin dimana aku akan membacakan Al Quran untuknya. Aku juga membacakan berbagai senandung shalawat saat menidurkannya. Hanin temanku membaca buku, ataupun kerja di laptop.

Begitulah Hanin menghiasai hari-hari kami. Memberi lebih banyak tawa dan ceria di dalam rumah. Terima kasih Hanin, kami semua sayang padamu.

Catatan : 
Baca juga Serial KISAH ADE berlatar keluarga miskin yang ceria. Namun 'Ade' si bungsu sering mempertanyakan doktrin keagamaan yang ditanamkan ayahnya.

Serial pertama KISAH ADE adalah Pancalogi Belitung, dimulai dari
Belitung (1) Nenekku di Gantung di Manggar sampai seri terakhirnya dengan judul
Belitung (5) Antara Manggar & Tanjung Pandan Kureguk Dua Rindu

Sedangkan Serial kedua KISAH ADE adalah Tetralogi IBU silahkan klik judul berikut

Teman-teman yang sudah mampir ke blog saya, silahkan tinggalkan komentar pada kolom dibawah yaa. Makasiiih ...

Saturday, June 13, 2020

Ayah, Jangan Buang Nasi Berkatku

Ini malam ke empat, Ibu menitipkan aku, untuk belajar ngaji di rumah Pak Haji Rahman. Jaraknya hanya delapan rumah dari rumah kami. Kebetulan putri bungsu pak Haji seumurku. Namanya Ajeng.

Saat Melihatku datang, Ajeng langsung meraih tanganku sambil berbisik.
“ Ade, malam Jum’at ini, anak kecil libur. Sebab orang-orang dewasa mau tahlilan. Kita main boneka aja yuk, di kamarku.”
“ Emh, tahlilan itu apa sih ?” Tanyaku.
“ Itu lho, orang-orang pada ngaji, dzikir, dan sedekah nasi berkat. Terus semua pahalanya dihadiahkan untuk saudara kita yang wafat.” Ajeng menujuk tumpukan besek yaitu kotak nasi terbuat dari anyaman bambu.
Ajeng menuntunku ke kamarnya. Banyak yang kutanyakan pada Ajeng tentang tahlilan dan dijawabnya dengan mudah. Sambil bermain boneka, terkadang mulut Ajeng yang imut, ikut mengucapkan kalimat-kalimat yang dibacakan di ruang tengah.
Lailaha ilallah, La ilaha ilallah. La ilaha ilallah, ala Nabi wa alihi salamullah.

Adzan isya akhirnya berkumandang, ini waktuku untuk pulang. Sebagian orang yang tahlil juga sudah bubar. Ajeng mengantarku sampai di teras. Tiba-tiba bu Haji memanggilku.

“ Ade… ini nasi berkatnya buat Ade. “ Bu Haji menyerahkan besek sambil tersenyum ramah.
“ Terimakasih Bu Haji .” Kataku sekalian berpamitan pulang.

Sepanjang jalan, aroma masakan dari dalam besek menyeruak masuk hidungku. Ingin sekali Aku membuka tutup besek. Tapi khawatir malah tumpah isinya.

Dari kejauhan terlihat ibu sudah menungguku di depan rumah kami. Aku segera berlari menghampirinya.
“ Ibuuu … Ade dikasih ini sama bu Haji.” Aku menyerahkan besek.
“ Ya Allah, pulang ngaji koq bawa nasi berkat toh De. ” Kata ibu sambil tertawa.
“ Buka bu, buka besek-nya. Ade pingin lihat isinya “ kataku sambil meloncat-loncat gembira.

Saat dibuka, aku bersorak dan bertepuk tangan, saking senangnya.
“ Yeaaaaay… !” Aku hampir tak percaya dengan penglihatanku. Besek itu penuh sekali isinya. Nasinya banyak, ditutup dengan ayam bakar potongan besar. Ada sambel goreng kentang ati, bihun goreng, dan sayur. Ada kerupuk udang, sambal dan timun, juga pisang.
“ Aaaah, kapan yaaa terakhir aku makan makanan seenak ini.” Pikirku. Perutku mendadak sangaaat lapar.

Tiba-tiba ayah datang menghampiri kami. Lalu membungkuk didepanku dan berkata lembut.
“ Ade, apakah di rumah Pak Haji Rahman ada acara tahlilan untuk orang mati ?” Tanya ayah.
“ Iya ayah, tadi sih Ajeng bilang, anak kecil libur ngajinya, karena ada tahlilan. Akhirnya aku menemani Ajeng main boneka. Hehe hee.” Jawabku, tak mengerti arah pembicaraan ayah.

“ Apakah Ade tahu, bahwa tahlilan itu adalah bid’ah.” Sorot mata ayah tiba-tiba terasa tajam. 
“ Memangnya bid’ah itu apa, Ayah? “ Aku menyandarkan kepalaku pada bahu ayah, untuk mengatasi kebingungan, saat merasakan perubahan ekspresi ayah.
Bidah itu adalah menambah-nambah urusan dalam ibadah, sehingga tidak sesuai dengan contoh dari Nabi. Jadi bid’ah itu sesat. Dan ujung dari kesesatan adalah neraka.” Dengan tangan kiri ayah merengkuh punggungku, sedangkan tangannya yang kanan, jarinya menunjuk-nunjuk.

Mendengar kata ‘sesat’ dan ‘neraka’ aku kaget. Kutatap wajah ayah.
“ Tapi ayah, Ade lihat mereka cuma ngaji Al Qur’an dan berdzikir bersama-sama. Apakah itu sesat dan membuat mereka semua masuk neraka?” Aku bingung kalau orang ngaji dan dzikir masuk neraka, Lha terus, orang yang ngga ngaji dan ngga dzikir masuk ke mana ya, masuk syurga? 

“ Oke. Ngaji dan dzikirnya baik. Tapi, mereka mengaitkannya pada hari ke-1, ke-7, ke-40, ke-100 dari hari kematian seseorang. Itu bukan cara Islam, tapi cara Hindu. Makanya ayah bilang hal ini bid’ah.” Nada bicaranya terdengar geram.

“ Whaaa... ajaran agama Hindu ?” Aku tercenung tak percaya. Kucoba mengingat penjelasan Ajeng tentang tahlilan adalah ‘ngaji, dzikir dan sedekah yang pahalanya dikirimkan untuk orang yang wafat’.

Ayah menuntunku untuk duduk di depan meja kerjanya.
“ Jadi begini Ade. Zaman dahulu, nenek moyang kita masih beragama Hindu. Datanglah Walisongo untuk mengislamkannya. Nenek moyang mau diajak masuk Islam. Tapi mereka belum bisa meninggalkan kebiasaan kumpul-kumpul, di rumah orang yang sedang kena musibah kematian. Jadi oleh walisongo dibiarkan tetap kumpul, hanya saja acaranya diganti dengan mengaji dan berdzikir. Adapun sekarang, kita yang lahir dari keluarga Islam, masa masih harus pakai cara-cara bid’ah begitu. Mengertikah Ade? Coba tanya kalau ada yang belum faham.” 

“ Eemh Ayaaah. Apakah nenek moyang juga bersedekah makanan, untuk yang hadir dan untuk tetangga-tetangganya ?” Tanyaku.
“ Ya Mungkin saja. Makanya kan jadi budaya hingga hari ini.” 
“ Ayaaah, dihatiku ada rasa cinta pada nenek moyang. Karena mereka itu, saat tertimpa musibah saja malah bersedekah. Apalagi kalau sedang senang ya. Mungkin mereka lebih banyak sedekahnya.” Kataku menerawang.

“ Adeee, membagi makanan memang baik. Tapi budaya begini merepotkan keluarga yang ditinggal mati. Padahal mereka sedang berduka.” Ayah terlihat prihatin.

“ Lho ayah, bagaimana kalau keluarganya ngga merasa direpotkan. Sebab ingin menolong  yang wafat, dengan mengirimkan berbagai pahala ibadah.” Aku menukas.

Yo Ndak bisa Ade. Menurut hadist Nabi Muhammad, semua amal ibadah Anak Adam,  terhenti dengan kematiannya. Kecuali tiga hal, doa anak saleh, ilmu yang diajarkan dan amal jariah. Jadi kalau keluarga dari orang mati bersedekah, ya pahalanya buat keluarganya. Ngga ada itu, amal orang hidup, pahalanya koq dikirim-kirim buat orang mati.”
Ayah bicara sambil menujukkan tiga jarinya.

“ Oh begitu? Berarti membantu bayarin hutangnya orang mati juga ngga perlu dong. Kan tidak termasuk dalam tiga hal ini.” Kuraih tiga jemari ayah yang tadi digunakan untuk menjelaskan hadist.
Sesaat ayah diam dan kulirik ibu menahan tawa. Ayah memang pernah sekian lama membayarkan hutang saudara dekatnya yang sudah wafat.

“ Emh … mungkin berbeda kalau tentang hutang. Nanti ayah pikirkan dulu yaa. Yang penting buat ayah, Ade sekarang sudah tau, bahwa dakwah wali songo itu belum selesai. Walisongo hebat, sudah berhasil mengIslamkan nenek moyang kita di Nusantara ini. Tugas kita sekarang memurnikan ajaran tauhid. Tidak ada urusan kita, dengan acara-acara bid’ah begitu.”

“ Ya ayah.“ Jawabku singkat, sebagai usaha untuk menghentikan diskusi ini.

“ Bagus kalau Ade bisa faham. Sebetulnya ayah kesini, cuma mau ngasih tau Ade, bahwa Kita sekeluarga ngga boleh makan nasi berkat seperti ini. Karena dibagikan dalam acara bid’ah.
Aku tersentak mendengarnya dan reflex menatap ayah.

“ Ih, masa ngga boleh dimakan. Terus buat apa dong. Dibuang?” Tanyaku sambil cemberut.

“ Kalau dibuang Namanya mubadzir, De. Mubadzir itu ikhwanus syaiton, saudaranya setan. Nasi kan bisa buat ayam, lauknya buat kucing, sayurnya buat kambing. Daripada kalau kita makan, kita jadi ikut nanggung dosa bid'ah.” Jawab ayah dengan santai.

“ Jangan Ayaaah, nasi berkat itu sudah dibacakan Al Qur’an dan dzikir diatasnya. Masa buat binatang sih.” Aku tambah kesal.

“ Setumpuk makanan tidak berubah, lantaran dibacakan sesuatu diatasnya.” Ayah tersenyum. Aku berfikir keras untuk mendebatnya.

“ Tapi Kata ibu, kalau makan tidak doa dulu makanannya justru menambah kekuatan setan di badan kita. Kata ibu juga, kalau kita lupa baca doa, terus baru berdoa ditengah-tengah makan, setannya lari sambil nangis karena dia ngga kebagian.” Kulirik Ibu.

“ Oke, lalu apa hubungannya dengan nasi berkat dalam besek?” Desak ayah memintaku menuntaskan pendapat.

“ Kupikir, mungkin cuma setan yang marah dan iri, kalau ada orang yang memakan nasi berkat yang sudah di bacakan Al Qur'an dan dzikir. Karena berarti dia ngga kebagian.” seruku dengan ketus.

Ayah diam menatapku, Lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. Aku yakin ayah terlalu cerdas untuk mengerti logikaku. Bahwa menurutku setan berkepentingan mencegah orang untuk makan hidangan yang diberkahi dengan doa dan Bacaan Al Qur'an.

Aku menunduk sambil membayangkan  apa reaksi ayah. Tak tahulah aku, apakah setelah ini ayah masih mengizinkanku untuk ngaji lagi di rumah pak Haji Rahman. Masih bolehkah aku tetap bermain dengan Ajeng.

Ditengah pikiran yang berkecamuk, tiba-tiba ayah mengusap kepalaku.
“ Ade, ayah memperhatikan semua yang Ade katakan. Ade berani dan kritis. Ayah suka.”
Nyeees … tiba-tiba aku merasa tenang dan kekhawatiranku hilang.
“ Makasih ayah.” Aku mulai berani mengangkat wajah.

“ Tapi maaf ya De. Tentang nasi berkat, Ayah tetap tidak bisa membiarkan kita sekeluarga ikut menanggung dosa, gara-gara memakan nasi dari acara bidah.”
Di titik ini, Aku terpaksa bungkam. Aku tak ingin ayah menyangka bahwa aku mendebatnya  demi mempertahankan sebesek nasi berkat.

“ Maafin Ade juga ya ayah. Ade takut, kata-kata Ade bikin ayah marah.” Kataku sambil meraih punggung tangan ayah lalu menciumnya. Senyum ayah mengembang.

“Ngga, ayah ngga marah.”  Digelengkan kepalanya.

“ Eeemh, apakah Ade masih boleh ngaji di rumah pak Haji Rahman ?” Aku perlu bukti bahwa ayah tidak marah.

“ Boleh, Ade boleh berbekal dengan berbagai macam ilmu. Dan ayah akan selalu membuka diri untuk kita bisa diskusi."

Aku memeluk ayah. Mensyukuri bahwa beda pendapat ini, menyisakan ruang padaku untuk menggali pemahaman agama dari sudut yang berbeda-beda.

Friday, May 8, 2020

Ibu, Aku Nggak Mau Ngaji Lagi


Hari ini ibu tidak memasak. Sejak kusampaikan keinginanku untuk ngaji, bersama teman-teman.

“ Bu, boleh ngga, Ade belajar mengaji di Mushola RT.07 ?” Tanyaku penuh harap.
“ Kalau ngaji pastinya Boleh dong. Tapi perginya bareng siapa saja ? Mushola RT.07 kan agak jauh.” Jawab ibu ragu.
“ Bareng teh Iis, Imas, Rani, Aang, Iyan, emh... banyak deh teman-teman yang ngaji di sana.”
“ Oh syukurlah kalau ada teh Iis, Ibu bisa menitipkanmu padanya.”
Ibu sudah tahu, teh Iis membantu Ustadz mengajar anak-anak kecil mengaji, di Mushala RT.07. Makanya ibu segera ke rumah teh Iis, untuk menanyakan apa saja yang harus dibawa dan dipersiapkan. 

Pulang ke rumah, ibu langsung mengambil kain batik di lemari. Kuperhatikan ibu mengunting dan menjahitnya dengan jahitan tangan. Lama-lama aku merasa ngantuk dan tertidur, di samping Ibu yang masih asik menjahit. Suara adzan ashar membangunkanku. Aku ingat, Ini adalah hari pertama aku akan mengaji bersama teman-teman.

Usai mandi sore, aku ke rumah Rani. Kulihat Rani juga sudah mandi. Memakai kaos dan celana pendek selutut. Di raihnya selembar sarung kecil bermotif batik. 

Kuperhatikan Cara Rani memakai sarung batik. Terlihat sama seperti ayahku memakai sarung biasa yang bermotif kotak-kotak. Rani menggulung sarung itu di perut, karena kepanjangan.

Saat Aku keluar dari rumah Rani, kulihat teman-teman perempuan juga memakai sarung batik seperti Rani. Aku segera berlari ke rumah. 

“ Ayo, ayo, cepat pakai sarung dan selendangmu, takut ditinggal teh Iis.” Kata ibu yang sudah menungguku di pintu. Dibukanya lipatan sarung batik yang tadi dijahit untukku. O ow aku kaget, sarungku seperti rok. Dibagian pinggang ada karetnya.
“ Kok begini bu ? Sarung Rani dan Imas ngga seperti ini, bu. “
“ Ngga apa apa ade. Kan ade masih kecil. Kalau pakai sarung seperti teman-teman, nantinya akan sering merosot. Ibu takut ade jatuh kesandung sarungnya sendiri. Makanya ibu jahitkan karet disini. Biar lebih praktis. ” Kata Ibu sambil menujuk pinggangku.

Tak mau buang waktu, aku manut saja saat ibu memakaikan sarung dan mengganti bajuku dengan tunik tangan panjang. Terakhir ibu menutup rambutku dengan sehelai selendang.

“ Bu ini selendang yang mana ya ?"
“ Hehehe, itu selendang ibu. Sengaja dipotong juga biar agak kecil. Supaya pantas dan tidak merepotkanmu saat dipakai.”
“ Makasih ibu.” Kataku sambil memeluknya. Pasti Ibu repot mempersiapkan baju untukku ngaji.
“ Ngaji yang rajin yaa. Biar jadi anak shalehah. Hati hati di perjalanan. Nurut sama Teh Iis yaa …”
“ Ya Bu. “ Jawabku sambil mencium tangannya.

Langit sore ini sangat indah. Aku berangkat mengaji bersama duabelas orang teman. Anak laki-laki memakai baju yang biasa dipakai bermain. Sarung kotak-kotak di selempangkan saja dibahu.

Teh Iis sibuk menertibkan kami semua agar aman selama dalam perjalanan, terutama saat beriringan di tepi jalan raya.

Tiba di Mushala, pengajian segera dimulai. Ternyata muridnya banyak sekali dari berbagai RT di kampung kami. Teh Iis dan teman-teman sepantarannya membantu ustadz.

Pertama-tama kami mendengarkan cerita dari ustadz Kemudian kami masuk dalam kelompok-kelompok kecil untuk mengaji secara bergiliran. Setelah itu menghafal juz amma bersama-sama. Terakhir menyanyikan lagu-lagu islami dan shalawat sambil menunggu adzan magrib.

Saat mengantri untuk wudhu, kudengar anak laki-laki berbisik-bisik serius dan terlihat marah. Rani adalah adik Iyan. Rani juga mulai berbisik-bisik padaku dan semua anak perempuan yang tadi pergi bersama-sama. 

Sekeras apapun aku berusaha untuk mengerti, aku benar-benar tidak faham apa yang sedang mereka bicarakan dan mengapa mereka semua seperti orang marah.

Usai shalat magrib dan berdoa, kami semua cium tangan ustadz dan boleh pulang. Tapi ada yang aneh !! kenapa kami semua juga cium tangan pada teh Iis. 

Olala, aku baru tahu. Ternyata, teh Iis dan kakak-kakak yang sudah besar, Selain membantu mengajar merekapun mengaji pada Pak Ustadz, waktunya seusai solat magrib. Berarti, teh Iis tidak pulang Bersama kami.

Aku jadi bingung. Tapi teman-teman serempak bergegas meninggalkan mushala. Akhirnya aku ikut mereka. Yang janggal adalah, mereka berjalan bukan kearah jalan pulang. Tak ada yang bicara dan suasana terasa tegang.

Di pinggir kebun, teman-teman berhenti. Mereka sibuk mencari batu dan mengikatkannya pada sarung mereka. Yang sudah selesai mencoba memutar-mutar sarung itu diatas kepala. Tampak seperti helikopter. 

Ada juga yang mencoba menyambitkan sarung ke pepohonan. Buk !! kencang bunyinya sebab pada semua ujung sarung ada batu sebagai pemberat.


“ Ade, cepat lepas sarungnya, jangan bengong aja.” Teriak Imas setengah membentak.
“ eeemh … untuk apa ?” Aku bingung.
“ Aduh !! Ade parah nih, ngga ngerti-ngerti. Sarung dan selendang ya buat senjata. Kita mau tawuran lawan anak-anak RT.04. Bentar lagi kita lewat daerah mereka“ kata Rani menjelaskan dengan gemas.
“ Tawuran itu apa ?” Aku tetap bingung.
“ Berantem Ade, berkelahi. Pukul, tendang, tinju, lempar. Gitu!” Kata Iyan sambil memperagakan orang berkelahi.

Deg !!! Aku merasa kaget dan takut. Jadi inikah bisik-bisik mereka sejak sore. Ingin rasanya aku kembali ke Mushala, menunggu Teh Iis selesai mengaji dan pulang bersama teh Iis.

Dengan terpaksa kulepas sarungku. Dan menyerahkannya pada Rani. Tiba tiba Rani tertawa dan menunjukkan sarung kecilku pada semuanya.

“ Lihat sarung ade, aneh ada karetnya wakakakaaa… “ Rani tertawa sampai keluar air mata.
“ Haaah ? Terus... dimana kita harus ngikat batunya ya. Bwahahahaha … “ Imas juga tertawa Panjang.
“ Coba aku lihat. Wahahaha, ini karet lumayan juga, bagus buat ketapel kali ya …” Gurauan Iyan membuat semua tertawa terpingkal-pingkal.
  
Aku berdiri menunduk ditengah tawa teman-temanku.  Ada rasa malu karena ditertawakan. Ada rasa sedih ingat ibu yang repot menyiapkan bajuku. Ada Rasa takut membayangkan teman-teman akan tawuran melawan anak-anak RT.04. Segala rasa campur aduk.

“ Udah… udah… nanti bocahnya nangis. Tambah parah pasukan kita.” Rani akhirnya menengahi.
“ Iya, si Ade mah anak bawang, kita lindungi aja.” Kata-kata Iyan sedikit melegakanku.
“ Dengan satu syarat. Ade harus janji, ngga boleh bilang-bilang ke orang dewasa tentang tawuran ini.” Aang menunjukku. 
Aku mengangguk, yang penting aku bisa cepat pulang. Akhirnya sarung dan selendangku dikembalikan padaku.

“ Besok kita harus berusaha membujuk anak-anak RT kita, supaya mau ngaji bareng. Biar pasukan kita tambah banyak dan kuat.” Kudengar Iyan dan Rani mengatur strategi.  Semua anak akan melawan anak-anak RT.04 yang menghadang di ujung kebun. Kecuali Imas dan Aang, bertugas mengawalku, agar selamat melewati daerah RT.04.

Aku diajak merunduk menyusuri selokan yang kering. Kudengar suara bak buk bak buk diantara teriakan teman-teman.

Ketika akhirnya sampai di rumah. Kulihat Ibu sudah menungguku dipintu dengan senyumnya yang lebar. Air mata tiba-tiba sulit kubendung. Satu kalimat yang bisa kuucap

“ Buu … Ade ngga mau ngaji lagi. “ Ibu memelukku lama sekali. Ada rasa damai dalam lembutnya usap tangan ibu. Sayang sekali, aku tak bisa bercerita apapun. Aku sudah berjanji untuk merahasiakan tawuran bersenjata sarung.

*) Bagaimana pengalamanmu saat pertama kali mengaji atau belajar agama ? hehehe ... tuliskan di kolom komentar dibawah ini yaaa ...

**) Baca juga CERITA ADE yang lainnya dengan klik judul dibawah ini

Ibu, Biduan yang Mampu Menghapus Lukisan Seram di Dinding
Ibu, Menyulap Balita Jadi Nenek Nginang
Ibu dan Misteri Delapan Kelinci

Belitung (1) Nenekku di Gantung di Manggar
Belitung (5) Antara Manggar & Tanjung Pandan Kureguk Dua Rindu

***) Ilustrator : IZZU https://www.instagram.com/izzuddindotkom/